Minggu, 13 Maret 2011

Tehnik Konseling Asertif Training

TEKNIK ASERTIF TRAINING (LATIHAN KETEGASAN)

A.      Asertif Training (Latihan Ketegasan)
1.         Definisi
a.      Asertivitas merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain.
b.      Latihan asertif merupakan latihan keterampilan-sosial yang diberikan pada individu yang diganggu kecemasan, tidak mampu mempertahankan hak-haknya, terlalu lemah, membiarkan orang lain merongrong dirinya, tidak mampu mengekspresikan amarahnya dengan benar dan cepat tersinggung (lutfifauzan).
c.       Asertif adalah suatu pernyataan tentang perasaan, keinginan dan kebutuhan pribadi kemudian menunjukkan kepada orang lain dengan penuh percaya diri (Taumbmann:1976)
d.      Asertivitas merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain (Wahyuningsih, dkk).
e.        Corey (1995: 87) menyatakan bahwa asumsi dasar dari pelatihan asertifitas adalah bahwa setiap orang mempunyai hak untuk mengungkapkan perasaannya, pendapat, apa yang diyakini serta sikapnya terhadap orang lain dengan tetap menghormati dan menghargai hak-hak orang tersebut.

2.      Tujuan
a.       Mengajarkan individu untuk menyatakan diri mereka dalam suatu cara sehingga memantulkan kepekaan kepada perasaan dan hak-hak orang lain.
b.      Meningkatkan keterampilan behavioralnya sehingga mereka bisa menentukan pilihan apakah pada situasi tertentu perlu berperilaku seperti apa yang diinginkan atau tidak
c.       Mengajarkan pada individu untuk mengungkapkan diri dengan cara sedemikian rupa sehingga terefleksi kepekaanya terhadap perasaan dan hak orang lain
d.      Meningkatkan kemampuan individu untuk menyatakan dan mengekspresikan dirinya dengan enak dalm berbagai situasi sosial
e.       Menghindari kesalah pahaman dari pihak lawan komunikasi

3.      Manfaat
a.       Melatih individu yang tidak dapat menyatakan kemarahan dan kejengkelan
b.      Melatih individu yang mempunyai kesulitan untuk berkata tidak dan yang membiarkan orang lain memanfaatkannya
c.       Melatih individu yang merasa bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk menyatakan pikiran, kepercayaan, dan perasaan-perasaannya
d.      Melatih individu yang sulit mengungkapkan rasa kasih dan respon-repon positif yang lain
e.       Meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri
f.       Membantu untuk mendapatkan perhatian dari orang lain
g.      Meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan
h.      Dapat berhubungan dengan orang lain dengan konflik, kekhawatiran dan penolakan yang lebih sedikit
4.      Prosedur
Prosedur dasar dalam pelatihan asertif menyerupai beberapa pendekatan perilaku dalam konseling. Prosedur-prosedur ini mengutamakan tujuan-tujuan spesifik dan kehati-hatian, sebagaimana diuraikan Osipow dalam A Survey of Counseling Methode (1984):
a.     Menentukan kesulitan konseli dalam bersikap asertif
Dengan penggalian data terhadap klien, konselor mengerti dimana ketidakasertifan pada konselinya. Contoh: konseli tidak bisa menolak ajakan temannya untuk bermain voli setiap minggu pagi padahal ia lebih menyukai berenang, hal itu karena konseli sungkan, khawatir temannya marah atau sakit hati sehingga ia selalu menuruti ajakan temannya.
b.    Mengidentifikasi perilaku yang diinginkan oleh klien dan harapan-harapannya.
Diungkapkan perilaku/sikap yang diinginkan konseli sehubungan dengan permasalahan yang dihadapi dan harapan-harapan yang diinginkannya.
c.     Menentukan perilaku akhir yang diperlukan dan yang tidak diperlukan.
Konselor dapat menentukan perilaku yang harus dimiliki konseli untuk menyelesaikan masalahnya dan juga mengenali perilaku-perilaku yang tidak diperlukan yang menjadi pendukung ketidakasertifannya
d.    Membantu klien untuk membedakan perilaku yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan dalam rangka menyelesaikan masalahnya.
Setelah konselor menentukan perilaku yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan, kemudian ia menjelaskannya pada konseli tentang apa yang seharusnya dilakukan dan dihindari dalam rangka menyelesaikan permasalahannya dan memperkuat penjelasannya.
e.     Mengungkapkan ide-ide yang tidak rasional, sikap-sikap dan kesalahpahaman yang ada difikiran konseli.
Konselor dapat mengungkap ide-ide konseli yang tidak rasional yang menjadi penyebab masalahnya, sikap-sikap dan kesalahpahaman yang mendukung timbulnya masalah tersebut.
f.     Menentukan respon-respon asertif/sikap yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahannya (melalui contoh-contoh).
g.    Mengadakan pelatihan perilaku asertif dan mengulang-ulangnya.
Konselor memandu konseli untuk mempraktikkan perilaku asertif yang diperlukan, menurut contoh yang diberikan konselor sebelumnya.
h.    Melanjutkan latihan perilaku asertif
i.      Memberikan tugas kepada konseli secara bertahap untuk melancarkan perilaku asertif yang dimaksud.
Untuk kelancaran dan kesuksesan latihan, konselor memberikan tugas kepada konseli untuk berlatih sendiri di rumah ataupun di tempat-tempat lainnya.
j.      Memberikan penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan.
Penguatan dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa konseli harus dapat bersikap tegas terhadap permintaan orang lain padanya, sehingga orang lain tidak mengambil mafaat dari kita secara bebas. Selain itu yang lebih pokok adalah konseli dapat menerapkan apa yang telah dilatihnya dalam situasi yang nyata.

5.      Ada empat kategori yang dikelompokkan dalam perilaku asertif (Walker,1996):
a.    Kemampuan untuk berinisiasi dengan memulai percakapan, menyambung dan menghentikan percakapan
b.    Berani berkata “tidak”
c.    Mengajukan suatu pertanyaan dan keinginan
d.   Mengekspresikan perasaan suka dan tidak suka
Latihan asertif merupakan latihan keterampilan-sosial yang diberikan pada individu yang diganggu kecemasan, tidak mampu mempertahankan hak-haknya, terlalu lemah, membiarkan orang lain merongrong dirinya, tidak mampu mengekspresikan amarahnya dengan benar dan cepat tersinggung. Karakteristik asssetiveness (social skills) training, yaitu:
a.         Cocok untuk individu yang memiliki kebiasaan respon – cemas (anxiety-response) dalam hubungan interpersonal, yang tidak adaptif, sehingga menghambat untuk mengekspresikan perasaan dan tindakan yang tegas dan tepat.
b.        Latihan asertif terdiri dari 3 komponen, yaitu : Role Playing, Modeling, Social Reward & Coaching
c.         Dalam situasi social dan interpersonal, muncul kecemasan dalam diri individu, seperti:
1)        Merasa tidak pantas dalam pergaulan social
2)        Takut untuk ditinggalkan
3)        Kesulitan mengekspresikan perasaan cinta dan afeksinya terhadap orang-orang disekitarnya.

6.      Ciri-ciri individu yang assertif yaitu:
a.    Mampu mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan dirinya, baik secara verbal maupun non verbal secara bebas, tanpa perasaan takut, cemas, dan khawatir.
b.    Mampu menyatakan “tidak” pada hal-hal yang memang dianggap tidak sesuai dengan kata hati atau nuraninya.
c.    Mampu menolak permintaan yang dianggap tidak masuk akal, berbahaya, negatif, tidak diinginkan, atau dapat merugikan orang lain.
d.   Mampu untuk berkomunikasi secara terbuka, langsung, jujur, terus terang sebagaimana mestinya.
e.    Mampu menyatakan perasaannya secara jelas, tegas, jujur, apa adanya, dan sopan.
f.     Mampu untuk meminta tolong pada orang lain pada saat kita memang membutuhkan pertolongan.
g.    Mampu mengekspresikan kemarahan, ketidaksetujuan, perbedaan pandangan secara proporsional.
h.    Tidak mudah tersingung, sensitif, dan emosional.
i.      Terbuka untuk ruang kritik.
j.      Mudah berkomunikasi, hangat, dan menjalin hubungan sosial dengan baik.
k.    Mampu memberikan pandangan secara terbuka terhadap hal-hal yang tidak sepaham.
l.      Mampu meminta bantuan, pendapat, atau pandangan orang lain ketika sedang menghadapi masalah.

7.      Teknik ini sangat relevan digunakan pada permasalahan yang menyangkut hubungan social. Misalnya dalam lingkup sekolah, organisasi, dan sebagainya. Dimana seringkali terjadi kebingungan pandangan mengenai asertif, agresi, dan sopan. Teknik ini memiliki asumsi bahwa:
a.       Kecemasan akan menghambat individu untuk mengekspresikan perasaan dan tindakan yang tegas dan tepat dalam menjalin suatu hubungan social.
b.      Tiap individu memiliki hak (tetapi bukan kewajiban) untuk menyatakan perasaan, fikiran, kepercayaan, dan sikap sesuai keinginannya.
Individu yang memiliki sikap assertif dapat dideskripsikan sebagai berikut, yaitu:


PESAN-PESAN TUBUH
INDIKATOR
Kontak Mata
Melihat orang lain langsung di matanya, ataupun cukup melihat di antara dua matanya, sedikit di atasnya, sedikit di bawahnya, dan tetap melakukan kontak mata pada saat menyatakan diri
Ekspresi Wajah
Menyatakan emosi positif dan negative anda dengan tepat, tetap dalam keasliannya, seperti tidak tersenyum sewaktu marah
Postur Tubuh
Tidak membungkuk
Gerak-Gerik
Menggunakan gerakan tangan dan lengan untuk membantu menyatakan diri anda dalam cara yang konstruktif
Jarak
Tidak menghindari orang, tidak “tabrak-lari”
Bebas Komunikasi Tubuh Yang Negatif
Seperti: kepala mengeleng-geleng, membanting pintu, mengepalkan tangan sebagai pertanda geram, telunjuk menuding-nuding muka seseorang
Bebas Komunikasi Tubuh Yang Membingungkan
Menarik-narik rambut, mempermainkan jari-jari, mengeser-geserkan telapak kaki ke lantai

PESAN-PESAN SUARA
INDIKATOR
Volume
Keras tetapi layak
Nada
Lugas, tidak mengambil suara “anak kecil”
Kecepatan
Tidak terlalu cepat
Perubahan Nada
Penghadiran perubahan suara yang menekankan pernyataan, tiadanya perubahan nada yang memberi indikasi menyerang ataupun merendahkan

Ada dua prinsip pokok dari Pelatihan asertif, yaitu:
1.      Prinsip larangan yang berbalasan, sebagaimana yang dikemukakan Wolpe (1969), memandang bahwa pelatihan asertif sebagai suatu kejadian special dari larangan yang berbalasan. Prinsip ini mengusulkan bahwa rangsangan yang nyata akan menimbulkan suatu respon kecemasan dan respon kecemasan tersebut tidak dapat dielakkan.
2.      I’m OK – You’re OK, kita dengan bebas melaupakan perasaan apapun yan kita rasakan, dan kita sendirilah yang bertanggung jawab terhadap perasaan kita. Kita tidak akan membiarkan orang lain mengambil manfaat dai kita dengan bebas, tetapi orang lain pun mempunyai kebebasan untuk mengungkap apa yang dirasakan. Kita tidak akan menyerang orang lain, bahkan akan menerima kehadiran orang lain dengan sikap terbuka. Ini adalah pengungkapan perasaan secara asertif. (Sawitri Supardi dalam Kompas Cybermedia)

8.      Aplikasi
Klien           : “Assalamu’alaikum….”
Konselor     : “Wa’alaikumsalam…. Mari silahkan duduk (berjabat tangan dan mempersilahkan duduk)”
Klien           :  “terimakasih..”
Klien          : “begini bu, saya datang ke sini mau cerita-cerita dengan ibu, ibu ada waktu tidak?”
Konselor     :” iya, ibu ada waktu, bagaimana?
Klien          : “ begini bu, saya itu bingung dengan diri saya bu, saya sulit sekali berkata “tidak” untuk membantu orang lain, saya takut dibenci dan dikucilkan oleh teman – teman karena tidak bisa membantu. Di kos saya sering di suruh – suruh teman – teman dari nitip setrikaan, ngepelin ,nyuci”.
Konselor     : “ehmm… (mengangguk), Anda mengatakan bahwa anda sulit berkata “tidak” agar tidak di benci orang dan dikucilkan”.
Klien          : “iya bu, awalnya saya berpikir bahwa jika saya menolong mereka, mereka bisa mudah menerima saya untuk dijadikan teman apa lagi saya anak kos jauh dari orang tua wajarlah saya mencari kawan sebanyak mungkin untuk menjadikan mereka teman yang bisa menolong di kala saya susah kan saya jauh dari orang tua. Tapi dengan menolong mereka malah mereka menjadi terbisa minta tolong tidak melihat kesibukan saya. Saya takut menolaknya Bu”
Konselor     : “iya, saya mengerti dengan apa yang Anda rasakan, Anda merasa tidak enak dengan teman anda dan takut untuk di kucilkan”.
Klien          : “iya membuat”
Konselor     : “iya, Ani dapat  menolak ajakan temannya dengan kalimat “Maaf, sebenarnya saya punya kesibukan, jadi saya tidak bisa membantu” (dengan nada dan intonasi yang santai dan tenang)
Klien          : “oh begitu bu… , nanti saya akan mencobanya… “
Konselor     : iya coba Ani mengucapkan kalimat buat menolak ajakan teman tadi?








Daftar Pustaka
Corey, Gerald. 2007. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung:PT Refika Aditama.


Tarsidi, Iding. 2002. Makalah. Terapi Tingkah Laku (Behaviour Therapies). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

hopefully benefit